semua tentang Sadang Serang

Latest

Sadang Serang Dalam Ingatan (tamat)

Sejarah Haur Pancuh

 

Neng neleng neng kung
Neng neleng neng gung
Geura gede, geura jangkung
Geura sakola ka Bandung……..

Cepatlah besar, cepatlah dewasa, lekaslah sekolah ke kota Bandung…

Itulah sebait lirik lagu sunda yang pernah dilantunkan oleh kelompok rampak sekar PURNAMA yang diikuti musik karawitan, kecapi, goong dan Kendang. Yang sekarang mungkin sudah jarang kita temukan di kelurahan Sadang Serang. Group / kelompok karawitan asuhan Pak Rasep ini terdiri dari 20 orang, pada tahun 1960 an sering mengisi acara siaran di RRI Bandung yang dulu terletak di jalan Cianjur.

Mereka pergi berombongan dengan berjalan kaki dari rumah ke RRI Bandung, kelompok ini sesekali mengisi acara yang lingkupnya tingkat kelurahan, demikian diungkapkan Bapak Rasep pensiunan Depdikbud tahun 1980, yang sekarang masih aktif membantu Program UEDSP (Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam) di Kelurahan sadang Serang , yang tinggal di Haur Pancuh.

Haur pancuh menurut sejarah, awalnya merupakan ceritra orang, bahwa daerah ini dulunya banyak ditumbuhi oleh pohan bambu / haur koneng. Pada masa itu banyak orang yang menggembala kambing didaerah ini, kambing – kambing ini diikat pada batang- batang pohon bambu yang sudah dipotong, tetapi batang – batang pohon tersebut tumbuh lagi. Jadilah sebutan Haur Pancuh yang artinya pohon haur yang banyak digunakan untuk nyangcang domba. demikian kata Pak Rasep yang pada tahun 1926 dan pernah menjabat sebagai RW/RK periode tahun 1962 – 1966.

Haur Pancuh dulu mepunyai wilayah yang cukup luas, meliputi jalan Dipati Ukur, dan sebagian Sekeloa sekarang. Dibagi dua menjadi Haur Pancuh I dan Haur Pancuh II, yang terdiri dari 11 RT. Pada tahun 1980 Haur Pancuh mengalami pemekaran, menjadi dua wilayah yaitu Haur pancuh dan Haur Mekar. Jadi Haur Mekar merupakan pemekaran Haur Pancuh. Wilayah Haur Pancuh Yang masuk ke wilayah Haur Mekar adalah hanya meliputi satu RT saja yaitu wilayah RT 11, pada saat itu wilayah RT 11 merupakan daerah persawahan dan kebun, jadi masih jarang penduduk.

Di Haur Pancuh dulu terdapat pasar yang cukup besar yang berfungsi melayani kebutuhan masyarakat sekitar, pasar ini bila dibandingkan sama dengan pasar Cihaur Geulis sekarang. Sesuai dengan perkembangan kota dan kebijakan pemerintah dalam Perencanaan Kota Bandung (MasterPlan), pada tahun 1990 an pasar ini beralih fungsi menjadi bangunan Monumen Perjuangan Kota Bandung. Masyarakat yang lahannya terpakai oleh proyek ini cukup banyak, mereka direlokasi ke tempat yang baru yaitu ke daerah Cibiru.

 

Sadang Serang Dalam Ingatan (4)

Sejarah Gang Tilil

Secara Administratif Gang Tilil terletak di wilayah ujung selatan kelurahan Sadang Serang, berbatasan dengan Kecamatan Cibeunying Kidul. Gg Tilil jaman baheula tahun 1960-an merupakan pusat kegiatan pemerintahan kelurahan Sadang Serang.

Bentuk pelayanannya memusat, sebagai pengaruh dari pemerintahan Belanda. Hal ini dapat dilihat dari hampir seluruh kota-kota yang ada di Indonesia bentuknya terpusat, termasuk lingkungan kecil tingkat kelurahan yang dulu jadi pusat kegiatan Kelurahan Sadang Serang yaitu Gg Tilil. Pelayanan dan fasilitasnya terpusat di Alun-alun Gg Tilil. Di depan Kantor Kelurahan (sekarang jadi rumah pribadi Bpk E. Warso) ada lapangan, Mesjid Al-manar, KUA (belakang mesjid), Stamplat Oplet (terminal kecil untuk oplet rute Gg Tilil- Stasiun Kereta Api Bandung) yang sekarang jadi TPS (tempat pembuangan sampah sementara), Sumber air (PDAM) dulu disebut Gugunungan, Sekolah, Pasar, Apotek, Puskesmas, pertokoan (toko Cina) di kelilingi perumahan warga, bahkan pernah juga berfungsi sebagai Terminal bis dengan rute Gang Tilil Alun-alun (kantor PLN), dengan nama (LEN 5) menurut penuturan Pak Rasep warga Haur Pancuh.

Dalam perkembangannya lokasi kantor kelurahan beberapa kali mengalami perubahan, bahkan kantor kelurahan pernah ditempati menjadi kantor Kecamatan Coblong.

Sejarah perkembangan Alun-alun Gg Tilil diawali dengan dibangunnya mesjid Al-Manar tahun 1962. Konon kabarnya sebelum ada mesjid Al-Manar, satu-satunya mesjid jami yang ada di wilayah Gg Tilil dan sekitarnya adalah mesjid Al-Hasanah yang sekarang berada di jalan Titimplik, mesjid ini awalnya dijadikan sentral kegiatan umat Islam pada waktu itu, diantaranya berfungsi sebagai tempat Salat Jum’at. Namun sesuai dengan perkembangan jumlah penduduk di wilayah Gg Tilil dan sekitarnya maka walikota pada waktu itu (R Enoch) periode tahun 1949 – 1957 mendirikan mesjid sementara, dengan memanfaatkan bangunan bekas gudang peninggalan jepang (SMP Muslimin sekarang) untuk dimanfaatkan sebagai mesjid untuk solat Jum’at dan madrasah.Demikian paparan sejarah menurut salah seorang tokoh agama diwilayah Gg Tilil, KH. Iding Marzuki (saat buku ini dicetak telah tiada). Bahkan Mama Haji demikian sebutan untuk KH Iding Marzuki, pada waktu itu ikut terlibat langsung didalamnya bahkan ditugaskan langsung oleh walikota untuk membina masyarakat sekitar mesjid bersama dengan Bpk Husein (Almarhum). Bpk walikota pun memberikan fasilitas berupa rumah untuk ditempati oleh Bpk Husein, yang lokasinya masih berada di lingkungan mesjid.

Bertepatan dengan pemanfaatan lahan gudang menjadi mesjid Muslimin, dibangun pula bangunan bedeng yang terbuat dari kayu alakadarnya, berjejer disepanjang jalan dekat mesjid, menurut salah seorang warga yang masih tinggal di tempat ini, bangunan ini dihuni oleh sekitar 60 umpi, sedangkan di daerah jalan caladi terdapat pula bangunan bedeng berjumlah 8 umpi. Bangunan bedeng ini dulunya dibangun untuk membantu karyawan/ pegawai kotamadya yang belum memiliki rumah.

Sejalan dengan semakin meningkatnya perekonomian warga, bangunan bedeng sekarang sebagian besar sudah berubah bentuk dan fisiknya menjadi lebih permanen dan lebih bagus. Namun masyarakat sampai sekarang masih menyebut bangunan bangunan ini dengan sebutan bedeng.
Sejarah lapang Tilil dari dulu sampai sekarang keberadaannya masih saja menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar Kelurahan Sadang Serang, mulai dari tempat olah raga (sepak bola, Voly Ball, Atletik), tempat bermain anak, ngabuburit bila bulan puasa, tempat layar tancap, korsel, panggung gembira (dangdut, tujuh belasan), Manasik haji, parkir mobil, parkir kuda, delman, sampai jadi parkir roda pedagang.

Menurut penulis, Gg Tilil yang sudah dikenal sebagi pusat kegiatan masyarakat kelurahan Sadang Serang seharusnya didukung pula dengan kantor pusat pelayanan masyarakat kelurahan yaitu Kantor Lurah. Entah bagaimana ceritanya sampai Lokasi Kantor kelurahan bisa jadi tersingkir jauh dari pusat kegiatan.
Ditengah lapang Tilil dulu terdapat sebuah pohon yang berfungsi sebagai tempat berteduh, sehingga kondisinya pada waktu itu cukup sejuk didukung oleh rumput hijau yang menutupi lapangan.

Bila bulan puasa tempat ini ramai didatangi warga Sadang Serang khususnya yang berada di wilayah Utara, seperti Pasir Kaliki, Reuma, Karang Asih dll. Mereka datang untuk ngabuburit menunggu waktu buka tiba sambil mengasuh anak, dan mengelilingi pedagang minuman soda yang beratraksi dilapangan. Sebagian memanfaatkan gugunungan khususnya anak-anak bermain seluncuran / sosorodotan, turun dari atas gugunungan dengan menggunakan kertas kardus atau pelepah daun kelapa, sebagian anak bermain perang –perangan saling melempar air yang di masukan kedalam pelastik, melempar dari gunung yang satu ke gunung yang lainnya, hal ini pernah dialami oleh penulis sendiri ketika masih di bangku sekolah dasar.

Demikian pula bila hari Raya Iedul Fitri / Lebaran, warga memanfaatkan tempat ini untuk Solat IED selanjutnya tempat mangkalnya para pedagang dari penjuru dunia (tukang sate, tukang bala-bala, tukang bakso, tukang kuda, delman, sampai ke tukang judi Unyeng, Dadu / kupluk semua berkumpul di sini) segala ada campur aduk.

Dan yang paling berkesan dulu ada Mobil Truk bak terbuka yang sengaja membawa penumpang tua dan muda khususnya anak-anak berputar keliling kota, dengan rute ke Kebun binatang, Ciburuy (Cimahi) dll. Mobil tersebut milik mang Ujang Warga RW 11 Sadang Saip.

Sadang Serang Dalam Ingatan (3)

Sejarah Pasir Kaliki

Pasir Kaliki, merupakan wilayah paling utara dari Kelurahan Sadang Serang, daerah ini dulu dikenal dengan makam / kuburan. Bila ada warga Sadang Serang dan sekitarnya yang meninggal dunia, biasanya dimakamkan di kuburan Pasir Kaliki.

Menurut salah seorang tokoh yang tinggal di Pasir Kaliki, dan lahir di daerah ini pada tahun 1932, Bpk Ato Yusman yang tinggal di RW. 18 RT. 05, nama Pasir Kaliki menurut sesepuh dahulu diambil dari potensi yang dimiliki oleh tempat ini, Dulu daerah ini banyak ditanami pohon kaliki, pohon ini mempunyai biji 4 buah yang terbelah dan keluar karena sudah matang. Konon kabarnya buah ini dahulu sering digunakan untuk penerangan / obor bila malam hari, bijinya dibakar, dan dapat pula dipakai untuk menyembuhkan orang yang budeg / torek / tuli, caranya buah kaliki / daun kaliki direbus, bila sudah panas uapnya ditiup diarahkan ke telinga yang sakit Insya Allah sembuh.

Penduduk asli daerah Pasir Kaliki awalnya merupakan penduduk pindahan dari kampung Cihapit Gempol. Pada waktu itu masih zaman penjajahan Belanda, kampung Cihapit Gempol akan dibangun perumahan / rumah dinas pegawai pemerintah. Selanjutnya direlokasi ke daerah Pasir Kaliki ini.

Pada tahun 1960-an awalnya daerah Pasir Kalili terbagi 2 wilayah yaitu Pasir Kaliki Kulon dan Pasir Kaliki Reuma termasuk didalamnya sebagian wilayah kelurahan Sukaluyu yaitu wilayah Babakan Jawa (sekarang daerah Mesjid Al-Ahkam). karena mengalami pemekaran maka wilayah Pasir Kaliki berubah menjadi 3 wilayah yaitu Pasir Kaliki Barat (RW 15), Pasir Kaliki Tengah (RW 18) dan Pasir Kaliki Timur (RW 19) sekarang. Nama Babakan Jawa dulunya mempunyai sejarah tersendiri.

Menurut Pria pensiunan Pos Giro ini, dulu daerah ini lahannya kosong berupa kebun. Pertama dihuni oleh dua orang pedagang asongan/tukang loak kebetulan berasal dari jawa yang merantau di Jawa barat, Karena tidak memiliki rumah maka kedua orang tersebut mendirikan sasaungan, begitu istilah pak Ato menyebutkan rumah dengan istilah sasaungan, mungkin karena sederhananya seperti saung. Lama kelamaan kedua orang tersebut membawa teman- teman seprofesinya yang juga kebetulan orang jawa menduduki daerah ini, mulailah tempat ini dihuni oleh etnis jawa.

Masih menurut pak Ato Pada tahun 1970-an tempat ini dihuni oleh seratus persen orang jawa. Maka jadilah tempat ini dengan sebutan Babakan Jawa atau sekumpulan orang jawa.

Demikian juga dengan daerah Pasir Kaliki Reuma, disebut Pasir Kaliki Reuma karena pada saat itu lahannya masih banyak ditumbuhi kebun bambu yang lebat layaknya seperti hutan, dan kuburan. Bila seseorang melewati hutan bambu ini pada waktu sore hari akan merasa ciut/takut, sebab suasananya sangat sepi dan gelap, yang terdengar hanya suara angin dan gesekan-gesekan pohon bambu yang membuat bulu kuduk berdiri, ditambah lokasi tersebut sangat dekat dengan kuburan. Oleh karena itu sebutan Reuma sangatlah cocok untuk daerah ini, karena arti Reuma menurut bahasa sunda artinya hutan demikian kata ustadz Usman seorang ustadz yang masih fasih menggunakan bahasa sunda lemes, yang pernah penulis tanyakan pada waktu pengajian di Mesjid Al-Ishlah Sadang Saip.

Seperti tadi diungkapkan bahwa sebagian besar lahan wilayah Pasir Kaliki ini penggunaan lahannya didominasi lahan kuburan. Penggunaan lahan kuburan ini cukup luas mulai dari ujung jalan Cikondang sekarang Cikutra Barat, Pasir Kaliki Tengah, sampai keujung Pasir Kaliki Barat (jalan terminal sekarang). Karena semakin banyak warga yang membangun rumah di wilayah ini sedangkan lahan yang tersedia semakin terbatas, maka lahan kuburan semakin terdesak.

Semakin hari semakin tidak nyaman dan tidak sehat tinggal di Pasir Kaliki, hal ini dapat dilihat dari penggunaan lahan yang tidak teratur yaitu berbaurnya lahan pekuburan dengan rumah penduduk, kuburan sering digunakan untuk jemur kasur warga dan tempat main anak-anak. Sesuai dengan perkembangan wilayah dan pesatnya pembangunan perumahan khususnya pembangunan Perumnas Sadang Serang, maka pada awal tahun tujuh puluhan, tepatnya tahun 1973-1977. sudah banyak makam yang dibongkar. Perubahan lahan makam menjadi lahan perumahan pun dilakukan secara bertahap.

Sejarah perubahan makam menjadi rumah penduduk menurut Pak Ato, awalnya lahan kuburan ini statusnya terdiri dari lahan wakaf dan lahan milik pribadi. Karena lahan pribadi yang tidak digunakan cukup luas dan tidak produktif, maka pemilik lahan pertama memperbolehkan bila ada warga atau kerabat yang tidak punya tanah untuk dimakamkan di lahan miliknya. Namun karena pemilik pertama lahan ini sudah meninggal dan meninggalkan surat tanah adat bagi anak cucunya, maka oleh anak-cucunya lahan tersebut dijual belikan ke pada orang/lembaga yang membutuhkan, apa lagi pada tahun tersebut pembangunan jalan, pasar, dan terminal sebagai pendukung perumnas Sadang Serang sedang giat-giatnya dilakukan.

Fasilitas pasar, terminal dibangunan hampir bersamaan dengan dibangunnya Perumnas Sadang serang ( sebagai sarana pendukung) sedangkan pasar loak Cihapit Sadang Serang dibangun pada tahun 1990-an, lahan pasar loak Cihapit ini merupakan lahan pengganti dari lahan pasar loak Cihapit Cibeunying bagi pedagang yang dipindahkan.

Di Wilayah Pasir Kaliki terdapat Lapangan yang cukup luas (Lapangan sepak bola sekarang), Lapang ini pada tahun 1980 an pernah dijadikan tempat adu bagong (babi hutan). Adu bagong adalah atraksi perburuan seekor babi hutan / bagong oleh beberapa ekor anjing (biasanya lebih dari dua ekor) didalam satu tempat tertutup dibatasi oleh pagar yang terbuat dari bilik dan bamboo yang sengaja dibuat oleh panitia adu bagong.

Anjing – anjing ini dimiliki oleh warga yang sengaja dilatih berburu untuk diadukan dengan babi hutan. Biasanya anjing yang dapat mengalahkan babi hutan dalam setiap atraksi mempunyai nilai jual yang tinggi. Artraksi ini merupakan salah satu hiburan warga yang banyak diminati pada masa itu. Setiap warga yang akan menonton atraksi ini dikenai biaya karcis masuk.

Selain itu Lapangan Pasirkali juga sering digunakan untuk menonton layar tancap (bioskop terbuka) Alias misbar (gerimis bubar) dalam acara – acara tertentu yang diadakan pada waktu malam hari, serta pertandingan sepak bola antar klub sepak bola, dalam perkembangannya lapang yang memiliki multi fungsi ini, pernah memakan korban (meninggal) ketika terjadi turnamen pertandingan sepak bola antar klub Paksi dari sekeloa dan klub dari Ciparay. Karena model sepatu zaman dulu alas sepatu masih menggunakan semacam paku, pada waktu itu pemain belakang klub sekeloa terkenal dengan nama Sigobang beradu dengan lawan mainnya, dimana posisi kaki sigobang berhasil menembus tubuh lawan mainnya.Peristiwa ini merupakan peristiwa jatuhnya korban pertama dalam ajang pertandingan sepak bola di pasir Kaliki ujar Pak Ato.

Daerah sekitar Pasir Kaliki juga di kelilingi sawah, mata air, kebun bambu, rawa. Hal ini dapat dilihat dari nama-nama tempat yang menggunakan nama tempat tersebut, sebut saja Sekeloa (nama mata air), Sadang Serang (sawah), Reuma (hutan), Haur mekar, Haur Pancuh (Pohon Haur/bambu) Ranca Oyo (nama Rawa), dsb. Untuk nama tempat yang disebutkan terakhir (Ranca Oyo) Wilayah Pasir Kaliki Barat / Pasbar, juga merupakan tempat yang mempunyai kenangan indah khususnya bagi penulis.

Pada pertengahan tahun tujuh puluhan, tempat ini merupakan tempat bermain yang paling berkesan bagi penulis semasa kanak-kanak, diantaranya sebagai tempat pangojayan / tempat berenang, tempat mandi bagi sebagian penduduk. Ditempat ini terdapat curug / air terjun kecil yang bernama curug Oyo, sawah, dan galian pasir. Curug Oyo (sering digunakan masyarakat setempat untuk mandi , berenang, mancing ikan dan mencari impun). Sawah tempat ngurek belut, mencari papatong / capung, dan mencari tutut. Hasil galian pasir banyak digunakan untuk kebutuhan pembangunan rumah penduduk sendiri dan sebagian dijual.

Suasana pada waktu itu sangat asri dan sejuk. Namun belakangan tempat ini menjadi tempat yang sangat padat dengan bangunan penduduk, tanah ditutup dengan semen dan aspal, lebar sungai menjadi kecil dan dangkal, sehingga sering terjadi banjir yang mengakibatkan rumah penduduk tergenang air sampai satu meter lebih. Hal ini disebabkan semakin terbatasnya resapan air kedalam tanah, dan kapasitas penampungan air selokan menjadi kecil.

Banjir terakhir terjadi di awal bulan Maret 2005, mengakibatkan kerugian harta benda dan rusaknya lingkungan sekitar.

 

Sadang Serang Dalam Ingatan (2)

Sejarah Sadang Saip

Berbicara tentang sejarah Sadang Saip zaman baheula, tentunya tidak akan lepas dari seorang saksi sejarah bernama Bapak Suhaeri / Pak Iri, karena selain merupakan salah seorang tokoh Sadang Saip juga orang-orang yang pernah hidup seangkatan dengan beliau sudah hampir tidak ada / langka, kalaupun ada kondisinya sudah sepuh dan amat renta.

Pak Iri mengisahkan bahwa pada tahun 1948 beliau sudah menginjak usia 17 tahun. Seingat beliau pada waktu itu Sadang Saip tidak seperti sekarang, yang heurin ku tangtung dan padat dengan perumahan. Sadang Saip waktu itu masing lengang, masih didominasi oleh persawahan dan kebun. Pemilik lahan masih relatif sedikit, artinya lahan sawah dan kebun pada waktu itu masih dikuasai oleh beberapa gelintir orang saja.

Saking luasnya seseorang bisa memiliki banyak lahan. Bahkan nama Sadang Saip sendiri sebenarnya diambil dari nama seorang tuan tanah pada waktu itu, yang bernama Pak Saip. Konon kabarnya beliau adalah orang yang memiliki banyak tanah di Sadang Saip dan berdomisili di RW. 12 (sekarang). Pada umumnya kondisi rumah pada waktu itu masih relatif sederhana, terbuat dari kayu dan bilik, sangatlah jarang orang yang memiliki rumah permanen.

Masih menurut cerita Pak Iri, di Sadang Saip pada waktu itu terdapat bangunan yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Gedong Panganten (Sajodo), atau gedung kembar, bangunannya saling mendukung antara satu dengan lainnya. Bangunan ini terdiri dari dua buah rumah yang mirip antara satu sama lainnya, konon kabarnya bangunan ini dulunya milik seorang meneer (belanda) bekerja sebagai direktur sebuah Bank di kota Bandung, dan namanya diabadikan dengan nama jalan di kota Bandung yaitu Jalan Degroote Weg ( sekarang menjadi jalan Siliwangi), Selanjutnya kedua rumah ini diberikan kepada warga Sadang Saip yang pernah bekerja mengabdi kepada beliau, dan bangunan ini sekarang dimiliki oleh dua orang warga Sadang Saip.

Walaupun bangunan ini konstruksinya terbuat dari tembok dan kayu (semi permanen), namun gedung ini merupakan bangunan yang dipandang oleh masyarakat pada waktu itu cukup megah/mewah (lokasi berada di RW 11) Rumah Bpk Saiman dan Bpk Amat (keduanya sudah Almarhum).
Kondisi sumber mata airpun cukup banyak, bagi mereka yang mampu membuat sumur, di rumahnya terdapat sumur dengan kedalaman tidak lebih dari 2 meter, dengan kondisi air yang jernih. Namun bagi sebagian warga yang tidak memiliki sumur, mereka dapat memanfaatkan sumber air lain dari Seke / air nyusu ( sumber mata air yang ada dipermukaan tanah tanpa melakukan penggalian).

Lokasi Seke ini ada di RW. 11 RT. 01 sekarang, berada di bawah pohon muncang besar yang tingginya mencapai 10-15 meter, milik seorang warga yang bernama pak Ibong. Sumber mata air ini sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai dari minum, mandi,dan cuci.
Masih menurut cerita Pak Iri, Sadang Saip tempo dulu terkenal pula dengan group keseniannya. Nama group kesenian tersebut adalah Perkeisa, singkatan dari Persatuan Kesenian Sadang Saip. Group ini didirikan oleh Bpk Efen Supandi (adik Bpk Iri). Pada tahun 1946, memiliki banyak kegiatan. Jenis kesenian yang digeluti group ini meliputi Tari Serimpi (semacam tari Jaipong sekarang), Reog, Calung, Kendang penca, Barongsai, dan Keroncong. Group ini merupakan group kesenian yang sangat kental dengan nuansa daerah sunda (kecuali keroncong) dan sudah banyak dikenal oleh masyarakat baik dilingkungan Kelurahan Sadang Serang maupun di tingkat Kotamadya. Tujuan dibentuknya group ini selain untuk melestarikan budaya sunda juga memberikan hiburan kepada masyarakat pada masa itu, karena pada waktu itu masih jarang hiburan. Group ini sering tampil dalam acara peringatan tujuh belasan, pesta pernikahan, khitanan di daerah luar Sadang Saip seperti Cimahi, Panjalu, Padalarang, Lembang, Cililin dan daerah sekitar Sadang Saip, serta sering juga diundang oleh pemerintah Kota Bandung saat itu. Anggota kesenian yang terkenal pada waktu itu adalah Mang Mahli si tukang kendang, Mang Salim si tukang bodor, kendang penca Pak Iri (terkenal punya ilmu yang dapat menyembuhkan orang kemasukan / kesurupan , kebal ditusuk dll). Yang membuat kegiatan ini maju dan berkembang karena kegiatan ini didukung oleh Lurah Sadang Serang, bahkan yang menjadi pelatih / maha guru pencak silat ini dipegang oleh Lurah sendiri, sehingga semakin banyak masyarakat yang turut serta dalam keanggotaan pencak silat, konon kabarnya jumlah anggota pencak silat dibawah asuhan Bpk Iri mencapai 200 orang, dan sering melakukan latihan diberbagai tempat, termasuk di bale kesenian Perkeisa.

Diawal tahun 1970-an kegiatan lain yang terkenal di Sadang Saip adalah kegiatan olah raga tenis meja. Beberapa persatuan tenis meja yang masih diingat antara lain PTM VISCA dan PTM TOERNIK. Menurut Gatot Nirboyo mantan pemain tenis meja, saat itu banyak pemain tenis meja yang sudah mahir. Klub olah raga ini pada masa itu banyak memunculkan nama pemain yang terkenal seperti Tosin, dan sering mengadakan turnamen tingkat kota Bandung dengan klub – klub yang ada di kota Bandung. Dengan adanya PTM VISCA maupun PTM TOERNIK pada waktu itu, membawa dampak bagi kebanyakan warga khususnya pemuda/i Sadang Saip pada masa itu menjadi punya hobi bermain tenis meja.

Sadang Serang Dalam Ingatan (1)

Sejarah telah mengungkap bahwa kota Bandung sejak jaman baheula, tepatnya sekitar tahun 1950-an terkenal dengan keindahan alamnya, keindahan yang didukung oleh letak goegrafis yaitu berada 700 meter diatas permukaan laut dengan ciri udaranya yang sejuk, air yang cur cor dimana mana, juga kepadatan penduduk masih relatif rendah. Oleh karena itu, Bandung masa itu khususnya Bandung Utara masih terlihat lengang, sejauh mata memandang terlihat hijau, hamparan persawahan, perkebunan, kolam dan hutan.

Begitu luasnya lahan persawahan diwilayah Bandung utara khususnya di Kelurahan Sadang Serang pada waktu itu, sehingga munculah sebutan Sadang Serang. Sadang artinya tempat, Serang artinya sawah, jadi Sadang Serang memiliki arti daerah yang banyak sawahnya atau daerah persawahan. Daerah Sadang Serang sendiri menurut salah seorang warga haurpancuh (Bpk Rasep), memakai nama salah satu kampung yang ada di bagian selatan kelurahan yaitu daerah jalan Titimplik (RW 06 sekarang), konon kabarnya daerah jalan Titimplik dulunya merupakan lahan persawahan (serang), penduduk kampung ini berasal dari kampung Sadang (Jalan Sawung Galing sekarang), karena daerah tersebut akan dibangun rumah dinas pemerintahan Belanda maka penduduknya direlokasi ke kampung sawah (Serang). Jadi sebutan Kampung Sadang Serang asalnya dari perpindahan penduduk kampung Sadang (Sawung Galing) ke Kampung baru yang daerahnya penuh dengan sawah (serang) yaitu jalan Titimplik.

Menurut Sekretaris Kelurahan Sadang Serang Bpk Sahuri (2004), wilayah Kelurahan pada waktu itu masih sangat luas terdiri dari 59 RW, dengan batas administrasi sebagai berikut :

  • Sebelah Utara dibatasi daerah Terminal Dago
  • Sebelah Selatan dibatasi daerah jalan Surapati
  • Sebelah Timur dibatasi daerah jalan Pahlawan
  • Sebelah Barat dibatasi daerah Dipatiukur

Wilayah Kelurahan meliputi kampung Sadang Saip, Sadang Serang, Karang Asih, Panyimgkiran, Haur Pancuh, Haur Mekar, Pasir Kaliki Reuma, Pasir Kaliki Tengah, Pasir kaliki Barat, dan Gang Tilil.
Daerah Sadang Serang (saat ini terminal Sadang Serang) dulunya terkenal dengan nama kampung Ciborete dan Babakan Sembung, sekarang nama kampung tersebut telah berubah nama menjadi Kampung Geulis yang dipakai untuk nama perumahan elit yang ada di Sadang Serang, namanya perumahan Kampung Geulis.
Nama Kelurahan Sadang Serang sekarang terkenal setelah dimulainya pembangunan perumahan / Perumnas Sadang Serang, ironisnya Perumnas Sadang Serang sekarang masuk wilayah kelurahan Sekeloa.
Kelurahan Sadang Serang dalam sejarahnya mengalami 2 kali pemekaran, seiring dengan laju pembangunan daerah dan bertambahnya penduduk maka pada tahun 1982 Sadang Serang di bagi menjadi dua wilayah yaitu Sadang Serang dan Sekeloa, dengan batas administrasi

  • Sebelah Utara dibatasi daerah Terminal Dago
  • Sebelah Selatan dibatasi daerah jalan Surapati
  • Sebelah Timur dibatasi daerah Cukang Kawung
  • Sebelah Barat dibatasi daerah Haur Mekar

Dengan jumlah RW meliputi 23 RW. Jadi wilayah sekeloa dulunya merupakan bagian dari wilayah Kelurahan Sadang Serang sekarang.
Pemekaran ke dua terjadi pada tahun 1994, pada waktu itu sebagian wilayah Sukaluyu merupakan bagian dari wilayah Kelurahan Sadang Serang, yaitu daerah Cigadung RW 22 dan RW 23. Dengan demikian sejak tahun 1994 jumlah RW binaan yang ada di Kelurahan Sadang Serang menjadi 21 RW, dengan luas wilayah 133 Ha, dan batas administrasi :

  • Sebelah Utara dibatasi daerah Termina Sadang Serang (Kelurahan Sekeloa)
  • Sebelah Selatan dibatasi daerah jalan Surapati (Kel.Cihaurgeulis dan Cibeunying Kaler)
  • Sebelah Timur dibatasi daerah Cikondang (Kel. Cigadung, Sukaluyu dan Cibeunying kaler)
  • Sebelah Barat dibatasi daerah Haur Mekar ( Kelurahan Lebak Gede)

Menurut salah seorang saksi sejarah mantan pegawai Kecamatan tahun 1964 yaitu Ibu Nenoh, Lokasi Kantor Keluran Sadang Serang pernah mengalami 5 kali perpindahan, pertama terletak di Haur Pancuh tahun 1962, kedua di Jalan Dederuk tahun 1964, ketiga di jalan puyuh tahun 1970, keempat di sekeloa tahun 1973, dan yang terakhir di Jalan Cikutra barat tahun 1976 sampai sekarang. Adapun pejabat kelurahan yang pernah memimpin Kelurahan Sadang Serang dari tahun 1962 sampai 2005 (sekarang) adalah sebagai berikut :

  • Bapak Sutisna periode tahun 1962– 1976 (Kepala Desa Coblong) Sadang Serang masih dalam sebutan ketua Blok Sadang Serang
  • Bapak Husna Hasan periode 1976 – 1977 (Kepala Lingkungan Sadang serang) sesuai dengan Undang-Undang Tahun 1979 tentang pemerintahan desa.
  • Bapak Bahro periode tahun 1977- 1979 (Kepala Lingkungan Sadang serang)
  • Bapak Udeh periode tahun 1986 –1989 (Kepala lingkungan Sadang serang)
  • Bapak Okib Efendi periode tahun 1989 – 1996 (Lurah Sadang Serang)
  • Bapak Oman Hermawan periode tahun 1996 – 1999 (Lurah Sadang serang)
  • Bapak Enjang Zainudin periode tahun 1999 – 2000 (Lurah Sadang serang)
  • Bapak Drs. Hendrawan Setia.W periode tahun 2000 – 2007 (Lurah Sadang serang)
  • Bapak Koswara periode tahun 2007 – sekarang  (Lurah Sadang serang)

(Sumber : Lurah Sadang Serang, Mantan pegawai kelurahan Bpk . Mamat, Ibu Nenoh Warga RT.03 RW.15 dan Bapak Oja mantan pegawai Kecamatan Coblong).

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.